Kalibrasi Hati

                                Kalibrasi Hati

Amsal 4:23

“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Renungan ini diawali dengan sebuah cerita sejarah. 

Januari tahun 1914 terjadi tabrakan antara kapal uap Monroe dan kapal dagang Nantucket di pinggir pantai Virginia, Amerika. Di hari yang berkabut itu, tabrakan kedua kapal ini menewaskan 41 orang korban jiwa. Karena kejadian tersebut kedua kapten kapal ini dipanggil pemerintah Amerika untuk diinterogasi selama kurang lebih 5 jam untuk mendapat informasi yang sebenarnya tentang tabrakan kedua kapal tersebut. 

Kesimpulan yang didapat dari hasil interogasi tersebut dan dicatat oleh New York Times di bulan Februari 1941 adalah kapten kapal Monroe, dia menahkodai kapal selama beberapa tahun terakhir dengan kompas yang berubah 2 derajat dari utara. Kedua kapten tersebut saling berpelukkan menyesal dan menangis sejadi-jadinya di depan  kongres. Kapten kapal Monroe berpikir 2 derajat yang melenceng dari utara tidak apa-apa, tapi hari yang berkabut itu mereka tidak lihat apa-apa dan yang mereka harapkan adalah kompas. Ternyata 2 derajat yang mereka remehkan itu, menyebabkan 41 orang meninggal dan kerugian materi lainnya. Harusnya Kompas tersebut dikalibrasi setiap tahunnya, sehingga arah kompasnya tidak berubah dari arah utara yang benar.

Saudara kalau ternyata kompas buatan manusia harus dikalibrasi, bagaimana dengan hati? Apakah hati perlu dikalibrasi?

Kalibrasi menurut KBBI adalah "proses pengecekkan dan pengaturan kembali akurasi sesuatu secara tepat (presisi)  kepada standar ukur yang sudah ditetapkan". Saudara kita tidak bisa meng-Kalibrasi kalau kita tidak mempunyai standar ukur.  

Menjadi manusia berarti menjadi sesuatu yang dinamis, manusia tidak berhenti untuk bergerak dan melakukan yang namanya pencarian pada Telos (Tujuan), your created to be something. Mungkin kita bertanya untuk apa saya hidup? Apa masa depan saya? Kemana saya akan pergi? Sampai dimana saya akan hidup? Dengan siapa saya akan berjalan? Sampai dimana tujuan akhir saya? Dalam pencarian inilah hati perlu mengecek kompasnya. Karena kalau utaranya tidak benar timur, selatan dan baratnya pasti meleset. Kalau kompas hati anda tidak dikalibrasi dan melenceng dari utara maka anda akan salah arah, salah menavigasikan hidup anda dan di suatu titik di hidup akan ada bencana, tabrakan karena utaranya tidak pas. Dalam kehidupan Utara adalah Tuhan. Kalau pencarian anda adalah Tuhan dan sejajar dengan hati saudara maka timur, selatan, barat akan pas. Oleh karena itu Alkitab berkata: "Carilah dahulu kerajaan Allah maka semuanya akan ditambahkan kepadamu". Persoalannya kita punya waktu untuk timur, selatan dan barat, tapi tidak punya hati untuk Utara (Tuhan). 

Kita manusia diciptakan untuk menyembah sesuatu, tinggal kita cek apa yang kita sembah benar atau tidak. Pada hakekatnya manusia diciptakan untuk mencari Tuhan. Oleh karena itu Agustine berkata: "Engkau menciptakan kami untuk diriMu, dan hati kami akan terus gelisah sampai hati ini tentram di dalam Engkau". Gambarannya seperti jarum kompas yang mencari utara dan saat menemukan utara dia akan diam  disitu karena menemukan arah yang tepat.

Dari pencarian terhadap Tuhan yang benar engkau dapat menentukan bisnis, keluarga, karir, pendidikan yang baik. Raja Salomo penulis kitab Amsal menulis jaga hatimu, cek hatimu, atur hatimu, lihat baik-baik hatimu, waspada dengan arah hatimu. Apa yang kamu kejar mati-matian? Berapa lama waktu yang engkau berikan untuk mencari Tuhan dalam 24 jam? Kapan terakhir kita mengkalibrasi hati untuk mencari Tuhan? Apakah hari minggu saat kita ke gereja untuk mengkalibrasi hati atau cuma untuk membunuh rasa bersalah kita saja? Jaga baik-baik hatimu, perhatikan, observasi, nilai, rawat, evaluasi posisi hatimu.

Pertanyaanya kenapa harus Hati yang dikalibrasi?

Dunia modern memberi ide bahwa manusia adalah 'Human Thinking'. Lalu manusia digambarkan sebagai brain on the stick. Kalo brainnya tidak ada dia hanyalah stick yang tidak berguna. Dan bobot manusia ditentukan oleh seberapa besar otaknya. Dan supaya otaknya besar, manusia menjadikan otaknya 'Deposite of Knowledge'.

Tapi Alkitab punya ide lain. Esensi, inti atau pusat daripada manusia bukan 'Thinking' tapi "Hati". Kalau ternyata benar inti dari manusia adalah thinking, maka apa yang seharusnya dilakukan tidak melenceng dan sesuai dengan knowledge yang terisi di otak. Anda tahu apa yang harusnya anda buat sesuai dengan knowledge yang dimiliki, tapi tak semudah itu karena anda akan melewati suatu proses yang ada di hati, dan ditentukan oleh hati. 

Bicara hati, Yesus selama ada di dunia yang diurus adalah hati. Karena Yesus tahu pencarian kita ditentukan oleh siapa yang kita kasihi di hati. Utara hatimu akan terganggu jika bukan Yesus yang menjadi harta terindah di hatimu. Kalau Tuhan melihat orang dari brain maka Tuhan tidak adil karena ada orang lain yang knowledgenya lebih tinggi dari yang lain, tapi Tuhan perlu hati karena semua orang dikasih hati yang sama, tinggal kita mau buka atau tidak untuk Yesus. 

Kepercayaan dimulai dari 'Hati' (Lukas 8:11-15). Engkau dapat menjelaskan apapun tentang Yesus adalah Juruslamat dunia menurut knowledge dan bukti sejarah yang ada, tapi kalau hati orang itu tidak terima maka dia tidak akan percaya. 

”Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat". (Lukas 31:34). Jaga baik-baik Utaramu agar timur, selatan dan baratmu berhasil. Tuhan kekal, dunia semu. Di musim yang sulit sekarang ini hidup adalah Anugerah.

Lalu apakah kita menolak Knowledge/ilmu pengetahuan?

Tidak. Alkitab berkata hendaklah kamu berubah karena pembaharuan dirimu, sedang bicara pengetahuan. Tapi pengetahuan dan pikiran ada batasnya.  James Smith mengatakan "Mengetahui batas-batas pengetahun bukan berarti merangkul kebodohan-ketidaktahuan. Kita tidak membutuhkan kurangnya pengetahuan, kita membutuhkan lebih dari pengetahun. Yang dimaksud di sini adalah Hati. 

Raja Salomo menuliskan bahwa hati dapat menentukan hidup mati seseorang di hadapan Allah. 

Carilah dahulu kerajaan Allah maka semuanya akan ditambahkan kepadamu. Hati adalah rumah bagi Kasih. Kemana hatimu pergi hidupmu akan ke sana, tidak mungkin tidak. Jaga baik-baik hatimu karena dari situlah terpancar Kehidupan. 



Renungan : Ps. Charles Bessie


 Penulis : Chelsy Dubu

Komentar

Postingan Populer